Pernah kehilangan semangat hidup?
Tepat setahun lalu, dimana gue merasakan pahitnya hidup. Sempat gue berpikir, saat itulah masa gue mengalami titik terendah dalam hidup, sangat rendah. Hanya bisa terbaring lesu diatas kasur yang sekarang menjadi salah satu saksi bisu bagaimana “siksaan” yang gue rasakan saat itu. Bahkan untuk berjalan keluar radius 1 meter dari rumah pun nggak bisa.
Satu setengah bulan yang sepatutnya dijadikan ajang penggalian ilmu untuk menghadapi SNMPTN, mendadak menjadi bulan yang sangat menyesakkan gue. Cuma diisi dengan tangisan gue. Iya, menangis. Gue yang notabene hampir nggak pernah menangis dalam suasana sesedih apapun, mendadak menjadi bocah yang benar-banar tak punya harapan. Nggak lebay, tapi memang waltu itu setiap hari nangis. at least, dari situ gue tau kenapa banyak orang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Harusnya bukan mereka saja yang kalian anggap bodoh, tapi salahkan juga lingkungan sekitar mereka.
You won’t know what it is, until you test it by yourself. Shit happens.
Mikirin kuliah? boro-boro. Untuk bisa senyum aja itu udah nikmat banget. Mungkin bukan cuma nikmat buat gue, tapi juga nikmat buat orang tua gue. Kita memang selalu merindukan kebahagian karena hal kecil, bahkan itu menjadi besar di kondisi tertentu. 2 minggu sebelum SNMPTN, gue dioperasi. Pertama kalinya gue nangis di depan orang. Sebelumnya, gue cuma pernah nangis di depan keluarga yaitu Ayah, Ibu, Kakak.
Wisuda angkatan 2011. Mendengar “Sakit kok ngga bilang-bilang?”, gue seneng banget meski basa-basi seperti ini hampir selalu dilakukan setiap orang, mungkin saja gue juga pernah melakukannya.
Sekarang gue lagi kecapean sama hidup. Berada di lingkungan yang ngga (atau belum) gue sukai. Bertemu dengan orang-orang yang belagunya di luar batas. Berinteraksi dengan orang-orang dengan nada bicara yang memekakkan telinga. Senioritas yang sedang due lawan. Membuat cape hati adanya. gue nggak bisa terima dengan peribahasa “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Nyatanya tipe bunglon seperti gue yang “kita adalah dengan siapa kita berbicara” ini, jengah juga dengan segala yang gue ‘paksakan’. Semua orang akan menganggap gue akrab dengan banyak orang. Yes, I do. Tapi tetep aja, diri gue ngga nyaman. apa harus tetap menjunjung langit yang angkuh itu?
Beda ceritanya satu tahun lalu ketika gue masih punya temen yang bener-bener menyenangkan. Gue percaya ada tipe orang yang “ngga usah memberi tanggapan apa-apa, kamu denger aku tenang”. And person like that is really exist. Sekarang disini gue bener-bener pejuang sendirian. Bermodalkan senyum radio dan candaan warung kopi, itu aja yang gue bisa. Tapi kalo ditanya betah? belum.
Post ini emang keliatan kaya keluhan, tapi bukan sepenuhnya kok. Gue kangen Indonesia. Gue kangen Bandung. Gue pengen cepet-cepet pulang.









